Sabtu, 26 Maret 2011

TEORI STRUKTUR PERKOTAAN

A. Theory Dari Burgess

Teori ini berasal dari telaah burgess atas struktur kota besar Chicago pada tahun 20-an yang kemudian diterbitkan berupa bukunya the city (1925). Sosiolog beraliran human ekologi ini mengemukakan bahwa kota-kota itu memekarkan diri bermula dari pusat ahlinya, sehingga nantinya oleh datangnya tambahan penduduk secara bertahap meluas ke wilayah-wilayah tepi dan keluar. Setiap aat pengamat dapat menemukan zone-zone beberapa buah yang bentuknya konsentrasi sehingga ini kepada kota-kota di pedalaman memberikan sruktur bergelang mengikuti aluran air ini nampak misalnya pada kota Amsterdam.
Teory burgess di atas dapat dibuktikan kebenarannya hanya di Negara-negara barat yang maju masyarakatnya ditambah lagi dengan syarat kondisi topografi lokal yang menguntungkan bagi rute komunikasi.
Menurut buku Struktur Tata Ruang Kota (Hadi Sabari Yunus) teory burgess ternyata banyak mempengaruhi perkembangan study kota selanjutnya. Ada beberapa ahli yang tidak menyetujui teori burgess ini . kelompok ini mengemukakan 4 alasan mengapa teori konsentris tidak disetujui yaitu:
1. Adanya pertentangan antara gradients dengan zonal boundaries.
Kritik ini mulai muncul dari Davie yang menyatakan bahwa gambaran konsentris sempurna seperti itu tidak sesuai dengan kenyataan. Adanya gradasi perubahan variabel-variabel dari pusat kota ke arah luar ternyata tidak jelas terlihat dari zona yang satu ke zona yang lain berikutnya. Kalau seandainya zonal boundaries itu betul mestinya batas antara zona dapat dilihat dan diacak dengan mudah. Menurut Davie (1937) ada 5 kenyataan yang tidak sesuai dengan teori konsentris, yaitu:
• Bentuk CBD mempunyai bentuk yang tidak teratur dan kebanyakan berbentuk segi empat atau persegi panjang dan bukannya bulat.
• Penggunaan lahan perdagangan meluas dari CBD ke arah luar secara menjari searah dengan route transportasi dan terkonsentrsi pada tempat-tempat strategis.
• Perumahan kelas rendah juga dapat terletak pada daerah industry dan daerah route transportasi.
• Industri terletak dekat jalur transportasi
• Perumahan yang lebih baik dapat terdapat dimana-mana.

2. Homoginitas internal yang tidak sesuai dengan kenyataan
Sanggahan ini pertama kali dikemukaakan oleh Hatt(1946) pada artikelnya yang berjudul the concept of natural area. Sarajana ini bertolak dari ide natural area yang dikemukakan oleh burgess. Dalam kenyataanya bahwa keseragaman yang dikemukakan oleh burgessterhadap populasi masing-masing zona tidak terlihat dan didalam tiap zona justru terlihat variasi internal yang sangat besar. Dengan demikian jastifikasi ekologis untuk mengenali karakteristik zona yang ada tidak dapat dipertanggungjawabkandan perlu dicari kerangka pendekatan yang lain untuk mempelajari kehidupan perkotaan yang sangat kompleks ini.
3. Skema yang anakronistik/ out of date
Oleh karena pada dekade yang sama saja teorinya tidak dapat dipertahankan apalagi digunakan untuk menganalisis model keruangan kota di dunia dengan latar belakang spasial dan temporal yang bervariasi.
4. Teorinya kurang bersifat universal
Oleh Burgess dikemukakan bahwa teorinya hanya berlaku pada kota-kota industri di Amerika yang sedang berkembang dengan cepat, namun kenyataannya telah diangkat sebagai suatu dasar analisis untuk semua kota-kota secara umum. Berdasarkan kajian dari berbagai kota-kota lain, khusus nya diluar Amerika, ternyata peranan kondisi politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi terhadap pembentukan pola keruangan kotanya sangat besar . secara garis besar, sanggahan terhadap teori burgess tersebut didasarkan pada
• Teori hanya berlaku pada kondisi yang sangat terbatas baik waktu, tempat, dan kondisi politik, ekonomo, sosial budaya.
• Ketidakcocokannya antara ide zona yang ada dengan ide gradient dari pusat kota kearah luar. Namun demikian perlu dicatat bahwa tidak semua ide-ide penyanggah sendiri dapat dipertahankan.

B. Teori Sektor Dari Hoyt
Menurut Homer Hoyt yang mengadakan riset-riset pada tahun 30-an, proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor-sektor dari pada sistem gelang sebagaimana dikemukakan dalam teori Burgess. Hoyt pun meneliti kota Chicago dengan maksud mendalami ciri-ciri DBD yang menempati pusat kota, sehubungan itu ia berpendapat bahwa pengelompokan tata guna tanah menjulur seperti irisan kue tart. Bersama itu terjadilah perbedaan kawasan kota berdasarkan jenis pergedungan ataupun kelompok penduduk tanpa keterangan latar belakang kejadiannya.
Dengan demikian, pendirian perumahan bagi kaum elit akan mendorong mahalnya tanah-tanah yang berlokasi di tepi-tepinya. Logis pula bahwa perumahan kaum buruh akan meluaskan diri dengan cara menyambung pada kompleks yang telah ada, kemudian lokasi untuk industri-industri baru. Begitulah kota akan memekarkan diri mengikuti pola irisan kue disebut sektor-sektor itu.

Para geograf masih menghubungkan lagi dengan latar belakang geografi alam dari kota yang bersangkutan serta rute-rute transportasi. Tanah yang datar memungkinkan pembuatan jaringan jalan, rel kereta api, dan terusan yang murah. Akibatnya sebuah kota perindustrian cenderung untuk mekar dengan cara memanjang. Demikian pula lokasi kota di tepi pelerengan, cenderung mekar melengkkung mengikuti bujuran lereng tersebut, ini yang menyangkut perumahan penduduknya.
Hoyt menemukan bahwa pajak tanah dan bangunan berbeda-beda berdasarkan sektor-sektor kota, jadi tak berarti bahwa pajak tertinggi harus kedapatan di dekat pusat kota. Seperti halnya pada teori Burgess yang konsentris tadi. Selanjutnya ditemukan pula bahwa makin ke dalam kota, dalam sektor yang sama, bangunan gedung / perumahan makin kuno, juga bahwa makin ke pusat kota fungsi industri makin berkurang atau makin mengalami perubahan. Sebaliknya perindustrian berkembang pesat di pinggiran kota yang lebar sektornya memang membesar.

C. Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multiple Nuclei Theory) Dari Harris Ullman
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1945 oleh Harris dan Ullman. Mereka berpendapat bahwa meskipun pola konsentris dan sektoral dalam kota ada, kenyataannya lebih kompleks dari apa yang sekedar diteorikan oleh Burgess dan Hoyt masing-masing.
Mereka jelaskan secara khusus bahwa pertumbuhan kota yang bermula dari suatu pusat menjadi ruwet bentuknya. Ini disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan berfungsi menjadi kutub pertumbuhan. Di sekeliling nucleus- nucleus baru itu akan mengelompok tata guna tanah yang / bersambungan secara fungsional. Keadaan seperti itu akan melahirkan struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan.
Tempat-tempat yang bertipe nucleus itu misalnya pelabuhan udara, kompleks industri, kampus universitas, pelabuhan laut atau stasiun besar. Yang memiliki nucleus bukan hanya kota, juga desa-desa besar atau kota-kota kecil yang pusatnya merupakan pusat pelayanan bagi penduduk. Lalu terjadi di sekitarnya pengelompokan tata guna tanah dengan perhitungan keuntungan ekonomis. Industri mencari lokasi di dekat terminal transportasi, perumahan baru mencari lokasi dekat pusat-pusat perbelanjaan. Juga ada gejala bahwa para spesialis (dokter, pedagang, cenderung berpraktek di kawasan kota yang tertentu ).
Teori Burgess dan Hoyt hanya menunjukkan contoh-contoh dari realitas belaka. Sebenarnya ciri-ciri persebaran jenis-jenis tanah ditentukan olrh faktor-faktor yang unik berupa situs kota dan sejarahnya pula yang khas. Demikian secara ringkas kritik Harris dan Ullman.

Faktor-faktor Penyebab Aglomerasi/Disaglomerasi Fungsi:
1) Fasilitas-fasilitas yang khusus tertentu (specialized facilities)
Menurut pendapatnya, kegiatan-kegiatan tertentu membutuhkan fasilitas-fasilitas tertentu, sebagai contoh; daerah-daerah pengecer/retail “districts” dalam kegiatannya sangat membutuhkan aksesibilitas yang maksimal. Hal ini mempunyai pengertian yang berbeda dengan ide sentralitas geometri. Misalnya distrik pelabuhan akan menguntungkan bila terletak pada pinggiran perairan yang dapat dilayari; daerah pabrik-pabrik hendaknya dekat dengan lokasi sarana angkutan yang besar dan lainnya.
2) Faktor Ekonomi Eksternal (external economies)
Seperti terjadi di kota-kota besar, adanya pengelompokan fungsi-fungsi yang sejenis menimbilkan keuntungan tersendiri. Pengelompokan akan berarti peningkatan konsentrasi pelanggan-pelanggan potensial dan memudahkan dalam membandingkan satu sama lain.
3) Faktor Saling Merugikan Antar Fungsi yang Tidak Serupa
Antagonism antar pengembangan pabrik-pabrik dan pengembangan permukiman kelas tinggi merupakan contoh yang sangat nyata. Konsentrasi pejalan kaki yang sangat tinggi, mobil-mobil di daerah pengecer (retail district) sangat antagonistic terhadap pemusatan fasilitas transportasi kereta api dan juga terhadap daerah untuk bongkat muat barang-baranng pada “wholesale district” atau daerah-daerah industry besar atau sebaliknya.
4) Faktor Kemampuan Ekonomi Fungsi yang Berbeda
Sering kali terjadi bahwa fungsi-fungsi tertentu justru tidak menempati lokasi yang sebenarnya ideal karena ketidakmampuan ekonomi. Sebagai contoh perumahan kelas tingakat rendah tidak mampu menempati lahan yang nyaman dengan pemandangan yang indah karena tingginya sewa lahan pada lokasi seperti ini. Adanya persaingan bebas, menempatkan “permukiman kelas tinggi” pada lokasi lahan tersebut karena mampu membayar sewa yang tinggi dan permukiman murah/ sesuai dengan kemampuan ekonominya.


Sumber:
Daldjoeni, N. 2003. Geografi Kota dan Desa.Bandung. PT.Alumni Bandung.
Yunus, Hadi Sabari.2004. Struktur Tata Ruang Kota.Yogyakarta.Pustaka pelajar.